Langsung ke konten utama

Ribuan Petugas Irigasi Jateng Tuntut Pengangkatan Menjadi PPPK, Gubernur Janjikan Langkah Konkret


Ribuan petugas irigasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Petugas Irigasi (FKPI) Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (19/5/2025). Massa yang mengenakan seragam biru tersebut berkumpul di Jalan Pahlawan, Semarang, untuk menuntut pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2023.

Para demonstran merupakan tenaga honorer dari enam Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) yang berada di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (PUSDATARU). Balai-balai tersebut meliputi Bodrikuto, Bengawan Solo, Pemali Comal, Probolo, Serayu Citanduy, dan Seluna. Mereka telah mengabdi selama puluhan tahun sebagai petugas irigasi tanpa kejelasan status kepegawaian.

Ketua FKPI Jawa Tengah, Muhammad Chundori, dalam orasinya menyatakan bahwa para petugas irigasi yang telah bekerja minimal dua tahun dan tercantum dalam database Badan Kepegawaian Negara (BKN), seharusnya bisa langsung diangkat sebagai PPPK pada tahun 2025. Ia menekankan bahwa pekerjaan mereka merupakan ujung tombak ketahanan pangan nasional, dan negara wajib hadir memberikan perlindungan dan kesejahteraan.

"PPPK adalah harga mati bagi kami," tegas Chundori di tengah massa aksi. Ia juga menambahkan bahwa para petugas irigasi memiliki tugas vital, seperti merawat bendungan, mengoperasikan pintu air, serta mengatur distribusi air untuk keperluan pertanian. Oleh sebab itu, ia berharap Gubernur Ahmad Luthfi dapat memperjuangkan nasib mereka di tingkat pemerintah pusat.

Aksi damai ini diakhiri dengan diterimanya enam orang perwakilan dari FKPI oleh Gubernur Jawa Tengah. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan aspirasi dan tuntutan secara langsung kepada Gubernur. Para perwakilan berasal dari masing-masing balai, termasuk dari Balai Seluna, Serayu Citanduy, dan Pemali Comal.

Menanggapi tuntutan tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi menyatakan keprihatinannya terhadap nasib para petugas irigasi yang selama ini membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan secara mandiri. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi akan segera menanggung iuran tersebut dan akan menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) sambil menunggu kejelasan petunjuk teknis pengangkatan PPPK dari pemerintah pusat.

Nanang Taroko, perwakilan dari Balai Seluna, menyampaikan bahwa petugas irigasi selama ini telah menjadi garda terdepan dalam mendukung program Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional. Harapan serupa juga disampaikan oleh Aan Wahyudi dan Marno dari Balai Serayu Citanduy, serta Imam dan Bagyo dari Pemali Comal, yang sama-sama menuntut kepastian status dan peningkatan kesejahteraan.

/Tim.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polisi Selidiki Motif Kekerasan di Blora, Korban Alami Luka Serius

CAKRAMEDIA INDONESIA Blora, 18 Februari 2025 – Insiden dugaan kekerasan bersama-sama terjadi di Dusun Mlawu, Desa Biting, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, pada Jumat (14/2) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Akibat kejadian ini, seorang pria bernama Moch. Mahfud Saputra mengalami luka serius. Berdasarkan laporan kepolisian, peristiwa ini terjadi di rumah milik Sakri Bin Yadi. Korban, pria kelahiran Bojonegoro yang bekerja sebagai pegawai swasta, diduga menjadi sasaran kekerasan mendadak saat berada di lokasi. Kejadian ini baru dilaporkan kepada pihak berwenang sekitar pukul 02.30 WIB. Keterangan Saksi dan Bukti Digital Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk Hanisa Putri Binti Sakri, Ibnu Ikhsan Setiawan Bin Sakri, serta Joko Prasetyo Bin Jayus yang identitas lengkapnya masih diverifikasi. Polisi juga menemukan bukti percakapan WhatsApp  yang menunjukkan adanya komunikasi antara korban dan seseorang yang diduga terkait dengan kejadian ini. Kaka...

Rekonstruksi Kasus Pengeroyokan Brutal di Sambong, Polisi Dalami Motif dan Peran Pelaku

Rekonstruksi kasus pengeroyokan sadis yang mengguncang Kecamatan Sambong akhirnya digelar oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blora. Aksi kekerasan yang nyaris merenggut nyawa seorang warga ini sempat membuat geger masyarakat setelah korban ditemukan dalam kondisi koma akibat dianiaya secara brutal. Proses rekonstruksi berlangsung di halaman Polres Blora, menyusul kondisi korban yang mulai membaik dan sudah dapat memberikan keterangan penting kepada penyidik. Rekonstruksi ini menghadirkan para tersangka, saksi, serta korban, untuk memeragakan ulang kejadian secara lengkap dan mendetail. Menurut Kasatreskrim Polres Blora, AKP Selamet, rekonstruksi ini sangat penting untuk mendapatkan gambaran utuh tentang insiden tersebut dari berbagai sudut pandang. “Kami ingin mencocokkan fakta-fakta di lapangan dengan keterangan para pihak yang terlibat, termasuk korban,” tegasnya dalam pernyataan pada 21 April 2025. Kasus ini menyita perhatian publik karena tingkat kekerasan...

Bagaimana Hubungan Antara Korban dan "H", Begini Pengakuan dari Orang Tua Korban

Cakramedia Indonesia, 6 Maret 2025 Akhmad Soesilo, selaku orang tua dari korban menjelaskan bagaiman hubungan antara Korban dan H. Mereka Sudah menjalani hubungan dari awal Covid, kalau Covid itu sekitar tahun 2020, berarti kurang lebih sudah sekitar 5 tahun berjalan, mereka bersama. "H" juga sering datang ke rumah Korban, walaupun korban tidak ada di rumah pun juga sering datang, sekedar membawa makanan atau jajanan yang diberikan kepada Ibu atau keluarga Korban. Jadi menurut saya tidak mungkin Korban masuk rumah melewati jendela, karena juga sudah sering dolan kesana, apalagi tidak ada jendelanya. Selain hal tersebut, hubungan yang sudah berjalan lama itu, pastinya orang tua dan keluarga "H" sudah tentu mengenal dengan baik korban. Dengan lingkungan sekitar, Pak RT, Pak RW pun juga sudah sama - sama saling mengenal baik. Disaat peristiwa tersebut terjadi, hp korban itu ada di tas. Kok kenapa tiba - tiba bisa hilang, dan ketika ditemukan dan diserahkan ...