Langsung ke konten utama

Enam Pelajar Ditangkap Polisi Terkait Tawuran di Pati



Polisi dari Satuan Reserse Kriminal Polresta Pati berhasil menangkap enam pelajar yang diduga terlibat dalam aksi tawuran di Jalan Raya Pati-Gembong, Desa Muktiharjo, Kabupaten Pati, pada Jumat (9/5/2025). Penangkapan dilakukan setelah polisi melakukan pengejaran selama tujuh jam.

Kasat Reskrim Polresta Pati, AKP Heri Dwi Utomo, menyampaikan bahwa keenam pelajar tersebut diamankan di beberapa lokasi berbeda. Upaya ini dilakukan untuk mengungkap peran masing-masing pelaku dalam kejadian tawuran tersebut.

Dari hasil pemeriksaan medis, diketahui satu pelajar mengalami luka berat di bagian kepala akibat pukulan benda tumpul. Sementara itu, dua pelajar lainnya mengalami luka ringan dan sudah mendapat penanganan medis.

Bupati Pati, Sudewo, mengecam keras aksi kekerasan yang melibatkan para pelajar tersebut. Menurutnya, peristiwa tawuran ini telah mencoreng citra pendidikan di daerahnya dan berdampak buruk bagi masa depan para pelajar.

Sudewo mendesak pihak kepolisian untuk menangani kasus ini dengan tegas. Selain itu, ia juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati untuk memberikan sanksi kepada kepala sekolah terkait sebagai bentuk tanggung jawab.

Orang tua siswa diimbau lebih aktif mengawasi pergaulan anak-anak mereka agar terhindar dari pengaruh negatif. Sudewo menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan.

(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polisi Selidiki Motif Kekerasan di Blora, Korban Alami Luka Serius

CAKRAMEDIA INDONESIA Blora, 18 Februari 2025 – Insiden dugaan kekerasan bersama-sama terjadi di Dusun Mlawu, Desa Biting, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, pada Jumat (14/2) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Akibat kejadian ini, seorang pria bernama Moch. Mahfud Saputra mengalami luka serius. Berdasarkan laporan kepolisian, peristiwa ini terjadi di rumah milik Sakri Bin Yadi. Korban, pria kelahiran Bojonegoro yang bekerja sebagai pegawai swasta, diduga menjadi sasaran kekerasan mendadak saat berada di lokasi. Kejadian ini baru dilaporkan kepada pihak berwenang sekitar pukul 02.30 WIB. Keterangan Saksi dan Bukti Digital Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk Hanisa Putri Binti Sakri, Ibnu Ikhsan Setiawan Bin Sakri, serta Joko Prasetyo Bin Jayus yang identitas lengkapnya masih diverifikasi. Polisi juga menemukan bukti percakapan WhatsApp  yang menunjukkan adanya komunikasi antara korban dan seseorang yang diduga terkait dengan kejadian ini. Kaka...

Rekonstruksi Kasus Pengeroyokan Brutal di Sambong, Polisi Dalami Motif dan Peran Pelaku

Rekonstruksi kasus pengeroyokan sadis yang mengguncang Kecamatan Sambong akhirnya digelar oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blora. Aksi kekerasan yang nyaris merenggut nyawa seorang warga ini sempat membuat geger masyarakat setelah korban ditemukan dalam kondisi koma akibat dianiaya secara brutal. Proses rekonstruksi berlangsung di halaman Polres Blora, menyusul kondisi korban yang mulai membaik dan sudah dapat memberikan keterangan penting kepada penyidik. Rekonstruksi ini menghadirkan para tersangka, saksi, serta korban, untuk memeragakan ulang kejadian secara lengkap dan mendetail. Menurut Kasatreskrim Polres Blora, AKP Selamet, rekonstruksi ini sangat penting untuk mendapatkan gambaran utuh tentang insiden tersebut dari berbagai sudut pandang. “Kami ingin mencocokkan fakta-fakta di lapangan dengan keterangan para pihak yang terlibat, termasuk korban,” tegasnya dalam pernyataan pada 21 April 2025. Kasus ini menyita perhatian publik karena tingkat kekerasan...

Bagaimana Hubungan Antara Korban dan "H", Begini Pengakuan dari Orang Tua Korban

Cakramedia Indonesia, 6 Maret 2025 Akhmad Soesilo, selaku orang tua dari korban menjelaskan bagaiman hubungan antara Korban dan H. Mereka Sudah menjalani hubungan dari awal Covid, kalau Covid itu sekitar tahun 2020, berarti kurang lebih sudah sekitar 5 tahun berjalan, mereka bersama. "H" juga sering datang ke rumah Korban, walaupun korban tidak ada di rumah pun juga sering datang, sekedar membawa makanan atau jajanan yang diberikan kepada Ibu atau keluarga Korban. Jadi menurut saya tidak mungkin Korban masuk rumah melewati jendela, karena juga sudah sering dolan kesana, apalagi tidak ada jendelanya. Selain hal tersebut, hubungan yang sudah berjalan lama itu, pastinya orang tua dan keluarga "H" sudah tentu mengenal dengan baik korban. Dengan lingkungan sekitar, Pak RT, Pak RW pun juga sudah sama - sama saling mengenal baik. Disaat peristiwa tersebut terjadi, hp korban itu ada di tas. Kok kenapa tiba - tiba bisa hilang, dan ketika ditemukan dan diserahkan ...