Langsung ke konten utama

Bang Gule Kritik Bupati Pati Melakukan Pelanggaran Moral



PATI – Kritik tajam kembali dilontarkan terhadap Bupati Pati Sudewo, terkait kebijakannya yang kontroversial soal kenaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Kali ini, pernyataan keras datang dari tokoh masyarakat dan advokat ternama Pati, Nimerodi Gulo atau sering disapa Bang Gule, yang menuding bahwa Bupati Sudewo sudah tidak memiliki moral sebagai pemimpin.

Dalam sebuah pernyataan yang terekam dalam video berdurasi singkat, Bang Gule menyampaikan bahwa kebijakan menaikkan PBB di tengah kesulitan ekonomi rakyat adalah bentuk pelanggaran moral. Ia menilai langkah tersebut tidak mencerminkan keberpihakan pada masyarakat kecil, melainkan hanya membebani rakyat yang sedang berjuang dalam perekonomian.

"Dia itu sebagai pelayan, dia itu sebagai teladan. Jadi kalau jadi Bupati itu jangan anti kritik, kalau tidak mau dikritik ya berhenti jadi bupati," ucap Bang Gule dengan nada tegas dalam video tersebut. Ia juga mempertanyakan kepemimpinan Bupati Pati yang menurutnya telah melakukan pelanggaran moral.

Lebih lanjut, ia juga menambahkan akan siap menjadi kuasa hukum secara gratis bagi warga yang dikriminalisasi oleh pihak - pihak tertentu termasuk kepolisian apabila menakut - nakuti warga untuk membela kepentingan bupati.

Pernyataan Bang Gule ini menambah panjang daftar tokoh publik yang menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan kenaikan PBB di Kabupaten Pati. Gelombang penolakan terus meluas, baik melalui media sosial maupun aksi langsung yang digagas warga dan kelompok masyarakat sipil.

(Redaksi Cakramedia Indonesia)
Sumber: YouTube Pertapakendeng TV
(20/07/2025)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polisi Selidiki Motif Kekerasan di Blora, Korban Alami Luka Serius

CAKRAMEDIA INDONESIA Blora, 18 Februari 2025 – Insiden dugaan kekerasan bersama-sama terjadi di Dusun Mlawu, Desa Biting, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, pada Jumat (14/2) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Akibat kejadian ini, seorang pria bernama Moch. Mahfud Saputra mengalami luka serius. Berdasarkan laporan kepolisian, peristiwa ini terjadi di rumah milik Sakri Bin Yadi. Korban, pria kelahiran Bojonegoro yang bekerja sebagai pegawai swasta, diduga menjadi sasaran kekerasan mendadak saat berada di lokasi. Kejadian ini baru dilaporkan kepada pihak berwenang sekitar pukul 02.30 WIB. Keterangan Saksi dan Bukti Digital Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk Hanisa Putri Binti Sakri, Ibnu Ikhsan Setiawan Bin Sakri, serta Joko Prasetyo Bin Jayus yang identitas lengkapnya masih diverifikasi. Polisi juga menemukan bukti percakapan WhatsApp  yang menunjukkan adanya komunikasi antara korban dan seseorang yang diduga terkait dengan kejadian ini. Kaka...

Rekonstruksi Kasus Pengeroyokan Brutal di Sambong, Polisi Dalami Motif dan Peran Pelaku

Rekonstruksi kasus pengeroyokan sadis yang mengguncang Kecamatan Sambong akhirnya digelar oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blora. Aksi kekerasan yang nyaris merenggut nyawa seorang warga ini sempat membuat geger masyarakat setelah korban ditemukan dalam kondisi koma akibat dianiaya secara brutal. Proses rekonstruksi berlangsung di halaman Polres Blora, menyusul kondisi korban yang mulai membaik dan sudah dapat memberikan keterangan penting kepada penyidik. Rekonstruksi ini menghadirkan para tersangka, saksi, serta korban, untuk memeragakan ulang kejadian secara lengkap dan mendetail. Menurut Kasatreskrim Polres Blora, AKP Selamet, rekonstruksi ini sangat penting untuk mendapatkan gambaran utuh tentang insiden tersebut dari berbagai sudut pandang. “Kami ingin mencocokkan fakta-fakta di lapangan dengan keterangan para pihak yang terlibat, termasuk korban,” tegasnya dalam pernyataan pada 21 April 2025. Kasus ini menyita perhatian publik karena tingkat kekerasan...

Bagaimana Hubungan Antara Korban dan "H", Begini Pengakuan dari Orang Tua Korban

Cakramedia Indonesia, 6 Maret 2025 Akhmad Soesilo, selaku orang tua dari korban menjelaskan bagaiman hubungan antara Korban dan H. Mereka Sudah menjalani hubungan dari awal Covid, kalau Covid itu sekitar tahun 2020, berarti kurang lebih sudah sekitar 5 tahun berjalan, mereka bersama. "H" juga sering datang ke rumah Korban, walaupun korban tidak ada di rumah pun juga sering datang, sekedar membawa makanan atau jajanan yang diberikan kepada Ibu atau keluarga Korban. Jadi menurut saya tidak mungkin Korban masuk rumah melewati jendela, karena juga sudah sering dolan kesana, apalagi tidak ada jendelanya. Selain hal tersebut, hubungan yang sudah berjalan lama itu, pastinya orang tua dan keluarga "H" sudah tentu mengenal dengan baik korban. Dengan lingkungan sekitar, Pak RT, Pak RW pun juga sudah sama - sama saling mengenal baik. Disaat peristiwa tersebut terjadi, hp korban itu ada di tas. Kok kenapa tiba - tiba bisa hilang, dan ketika ditemukan dan diserahkan ...