Langsung ke konten utama

STNK Mati Dua Tahun Tidak Disita dan Tidak Diblokir


Jakarta – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menepis informasi yang beredar terkait kebijakan penyitaan kendaraan dan pemblokiran data registrasi bagi pemilik yang tidak memperpanjang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) selama dua tahun. Klarifikasi ini merespons berbagai spekulasi yang muncul di media sosial mengenai aturan tilang yang disebut-sebut akan berlaku mulai April 2025.

“Informasi yang menyatakan bahwa kendaraan akan disita dan datanya dihapus jika STNK mati selama dua tahun adalah tidak benar,” tegas Direktur Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korlantas Polri, Brigjen Pol. Raden Slamet Santoso, Senin (17/3), sebagaimana dikutip dari Antara.

Aturan Tilang Tetap Mengacu pada Regulasi yang Berlaku

Brigjen Slamet menjelaskan bahwa tidak ada perubahan aturan terkait penindakan terhadap kendaraan dengan STNK yang belum diperpanjang. Ia menegaskan, STNK wajib disahkan setiap tahun melalui pembayaran pajak kendaraan bermotor. Jika STNK tidak diperpanjang dalam jangka waktu tertentu, pengendara dapat dikenai tilang, namun kendaraan tidak akan serta-merta disita atau datanya dihapus dari sistem registrasi nasional.

“Jika petugas mendapati kendaraan dengan STNK mati, maka pengemudi akan dikenai tilang. Namun, kendaraan tersebut tidak akan disita,” jelasnya.

Lebih lanjut, Brigjen Slamet menambahkan bahwa meskipun STNK tidak disahkan selama dua tahun berturut-turut, data kendaraan tidak otomatis dihapus kecuali ada permohonan dari pemiliknya.

Ketentuan Penghapusan Data Kendaraan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, khususnya Pasal 74, terdapat dua skenario penghapusan data kendaraan:

Atas permintaan pemilik kendaraan

Atas dasar pertimbangan pejabat berwenang, yang dapat dilakukan apabila kendaraan mengalami kerusakan berat atau pemilik tidak melakukan registrasi ulang setelah masa berlaku STNK habis selama dua tahun.

Jika data kendaraan sudah dihapus dalam skenario kedua, maka kendaraan tersebut tidak dapat diregistrasi ulang.

Simpang Siur Informasi di Media Sosial

Sejumlah unggahan di media sosial menyebutkan bahwa kendaraan dengan STNK mati dua tahun akan disita dan datanya dihapus atau diblokir, memicu keresahan di kalangan masyarakat. Menanggapi hal ini, Korlantas Polri menegaskan bahwa pemblokiran data kendaraan lebih terkait dengan pelanggaran yang tidak ditindaklanjuti oleh pemilik kendaraan.

“Pemblokiran data kendaraan bisa terjadi, misalnya, jika pengemudi yang terkena tilang elektronik (ETLE) tidak merespons surat konfirmasi atau tidak membayar denda dalam waktu yang telah ditentukan. Namun, blokir ini dapat dibuka kembali setelah pengemudi menyelesaikan kewajibannya,” terang Brigjen Slamet.

Ia juga menyoroti kemungkinan perbedaan pemahaman publik terkait istilah “STNK mati dua tahun”. Dalam konteks penghapusan data kendaraan, istilah ini merujuk pada STNK yang sudah habis masa berlaku lima tahunnya dan tidak diperpanjang selama dua tahun setelahnya. Dalam kondisi ini, kendaraan dapat dianggap ilegal atau “bodong” dan berpotensi disita. Sementara itu, STNK yang hanya tidak dibayar pajaknya selama dua tahun tidak serta-merta menyebabkan kendaraan disita atau datanya dihapus, melainkan hanya dikenai tilang.

Dengan adanya klarifikasi ini, Korlantas Polri mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi serta selalu mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor di Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polisi Selidiki Motif Kekerasan di Blora, Korban Alami Luka Serius

CAKRAMEDIA INDONESIA Blora, 18 Februari 2025 – Insiden dugaan kekerasan bersama-sama terjadi di Dusun Mlawu, Desa Biting, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, pada Jumat (14/2) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Akibat kejadian ini, seorang pria bernama Moch. Mahfud Saputra mengalami luka serius. Berdasarkan laporan kepolisian, peristiwa ini terjadi di rumah milik Sakri Bin Yadi. Korban, pria kelahiran Bojonegoro yang bekerja sebagai pegawai swasta, diduga menjadi sasaran kekerasan mendadak saat berada di lokasi. Kejadian ini baru dilaporkan kepada pihak berwenang sekitar pukul 02.30 WIB. Keterangan Saksi dan Bukti Digital Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk Hanisa Putri Binti Sakri, Ibnu Ikhsan Setiawan Bin Sakri, serta Joko Prasetyo Bin Jayus yang identitas lengkapnya masih diverifikasi. Polisi juga menemukan bukti percakapan WhatsApp  yang menunjukkan adanya komunikasi antara korban dan seseorang yang diduga terkait dengan kejadian ini. Kaka...

Rekonstruksi Kasus Pengeroyokan Brutal di Sambong, Polisi Dalami Motif dan Peran Pelaku

Rekonstruksi kasus pengeroyokan sadis yang mengguncang Kecamatan Sambong akhirnya digelar oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blora. Aksi kekerasan yang nyaris merenggut nyawa seorang warga ini sempat membuat geger masyarakat setelah korban ditemukan dalam kondisi koma akibat dianiaya secara brutal. Proses rekonstruksi berlangsung di halaman Polres Blora, menyusul kondisi korban yang mulai membaik dan sudah dapat memberikan keterangan penting kepada penyidik. Rekonstruksi ini menghadirkan para tersangka, saksi, serta korban, untuk memeragakan ulang kejadian secara lengkap dan mendetail. Menurut Kasatreskrim Polres Blora, AKP Selamet, rekonstruksi ini sangat penting untuk mendapatkan gambaran utuh tentang insiden tersebut dari berbagai sudut pandang. “Kami ingin mencocokkan fakta-fakta di lapangan dengan keterangan para pihak yang terlibat, termasuk korban,” tegasnya dalam pernyataan pada 21 April 2025. Kasus ini menyita perhatian publik karena tingkat kekerasan...

Bagaimana Hubungan Antara Korban dan "H", Begini Pengakuan dari Orang Tua Korban

Cakramedia Indonesia, 6 Maret 2025 Akhmad Soesilo, selaku orang tua dari korban menjelaskan bagaiman hubungan antara Korban dan H. Mereka Sudah menjalani hubungan dari awal Covid, kalau Covid itu sekitar tahun 2020, berarti kurang lebih sudah sekitar 5 tahun berjalan, mereka bersama. "H" juga sering datang ke rumah Korban, walaupun korban tidak ada di rumah pun juga sering datang, sekedar membawa makanan atau jajanan yang diberikan kepada Ibu atau keluarga Korban. Jadi menurut saya tidak mungkin Korban masuk rumah melewati jendela, karena juga sudah sering dolan kesana, apalagi tidak ada jendelanya. Selain hal tersebut, hubungan yang sudah berjalan lama itu, pastinya orang tua dan keluarga "H" sudah tentu mengenal dengan baik korban. Dengan lingkungan sekitar, Pak RT, Pak RW pun juga sudah sama - sama saling mengenal baik. Disaat peristiwa tersebut terjadi, hp korban itu ada di tas. Kok kenapa tiba - tiba bisa hilang, dan ketika ditemukan dan diserahkan ...